|
Ayah Giman seorang sopir angkutan pedesaan. Dialah yang sering mengangkut sayur-sayuran ke pasar-pasar. Mobil angkutan pedesaan itu kepunyaan pak Cokro tetengga Ayahnya.
Ketika itu Giman sedang menanak nasi di dapur. Hari masih pagi dan berkabut. Angin berhembus dingin dari arah bukit. Tubuh Giman mengigil kedinginan. Giman merapatkan tubuhnya, sambil meniup-niup api dapur yang sebentar menyala dan sebentar padam karena kayu apinya basah bekas hujan. Kini nasi yang ditanak Giman telah mendidih. Artinya berbusa putih meluap keluar dari kuali tanah. Ia mengaduk nasi itu dengan centong.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar